“ Melajah engsap, Melajah Inget †KELUARGA SUKINAH KOTA DENPASAR
Denpasar, 31 Juni 2012, Kemenag Kota Denpasar bersama tim penilai dari Kanwil Kementerian Agama Prov. Bali mengadakan penilaian Keluarga Sukinah 2012 di kediaman keluarga I Gusti Putu Gede Suwira yang beralamat di Jl. Cempaka Biru Selatan No. 6 Buluh Indah Denpasar Utara. Kegiatan dihadiri oleh Kabid Urusan Agama Hindu, Drs. IB. Mastika, M.Fil, H. Camat Denpasar Barat,Lurah Padang Sambian, Kepala Desa Padang Sambian Kaja, dan tim penilai yang terdiri atas Dr. Ida tari Puspa, M. Par. , Ida Bagus Putu Arsana, SE, M.Si, Dra. Ni Made Artini, M.Ag. dan Drs. I Wayan Yuda, M.Ag. Selain itu, juga dihadiri oleh Kasubag Tata Usaha sekaligus mewakili Kepala Kemenag Kota Denpasar, I Made Subawa, SE, yang didampingi oleh Kasi Urusan Agama Hindu I Ketut Wartayasa, S.Ag, M. Ag beserta penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar. Acara ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama di lingkungan Desa Pekraman Padangsambian.
Kabid Urusan Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Bali mengharapkan kepada keluarga sukinah untuk dapat mengaplikasikan kehidupan yang harmonis tersebut untuk selalu menjaga kerukunan dan dapat menjadi teladan bagi lingkungan Kota Denpasar. Artinya penilaian keluarga sukinah bukanlah hanya untuk mencari juara ke tingkat nasional, tetapi lebih penting lagi agar keluarga yang diberi kepercayaan untuk mengikuti penilaian ini dapat menularkan hakikat keluarga sukinah kepada keluarganya, lingkungan sekitar dan umat Hindu secara umum. Berkaitan dengan hal tersebut, I Gusti Putu Gede Suwira sebagai wakil dari Kota Denpasar menyampaikan kiat-kiatnya dalam membina keluarga sehingga tetap utuh dan bahagia dalam usia perkawinan yang telah mencapai 41 tahun bersama istrinya Ni Nengah Sutarti (Jero Puspasari). Sejak perkawinannya, Suwira dan Sutarti benar-benar merintis rumah tangganya dari nol, bahkan mereka juga harus menanggung biaya sekolah adik-adiknya. Mengawali karir sebagai perawat, pasangan ini berhasil menata rumah tangganya dengan baik sampai akhirnya berhasil mendirikan Klinik “Werdi Ayu†di kawasan Jl. Gunung Agung Denpasar.
Dari perkawinan ini Suwira dan Sutarti dikaruniai 3 orang anak yang hampir seluruhnya telah mampu membina rumah tangga secara mandiri, terutama merintis kewirausahaan. Berkaitan dengan pilihan pekerjaan anak-anaknya, Suwira mengatakan sejak kecil mereka memang dididik untuk disiplin dan mandiri, tetapi kepada mereka juga diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan yang bertanggungjawab. Maka dari itu, ketika anak-anaknya memilih untuk tidak menjadi PNS Suwira juga mendukung dan memberikan motivasi. Ternyata kesuksesan Suwira tidak hanya untuk anak-anaknya, tetapi juga diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Ini sebabnya sejak sekitar tahun 80an Suwira sudah mulai mengajak anak asuh dirumahnya, menyekolahkan mereka, dan membantu mereka sampai mendapatkan pekerjaan. Malahan beberapa anak asuh Suwira saat ini sudah ada yang menempati posisi-posisi penting baik di pemerintahan maupun di perusahaan swasta. Kepedulian dan kepekaan sosial dari Suwira ini ternyata bukan sekedar “Ajum†(dalam makna negatif), tetapi “Jengah†karena ia sendiri meiliki motto “ Melajah engsap melajah inget†(‘belajar melupakan dan belajar ingat’). Artinya dia berprinsip bahwa sebagai manusia kita harus belajar melupakan apa yang sudah kita berikan kepada orang lain, tetapi kita harus selalu ingat apa yang telah diberikan orang lain kepada kita. Menurutnya, ini adalah inplementasi dari prinsip Karma Marga yang sesungguhnya, yaitu menjadikan diri sebagai pelayan bagi Tuhan, sesama dan lingkungan. (urahi/win)