Menu

Piodalan di Padmasana Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar

  • Senin, 12 September 2011
  • 450x Dilihat
Piodalan di Padmasana Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar
Bertepatan dengan Purnama Sasih Ketiga, Soma Pon Matal Hari Senin 12 September 2011, dilaksanakan piodalan di Pura Dharma Kerti Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar beserta seluruh anggota Suka Duka Dharma Kerti pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar yang beragama Hindu, termasuk guru-guru Agama Hindu yang berada di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar. Menurut Ketua Panitia yang juga merupakan Kasi Urusan Agama Hindu, I Ketut Wartayasa, S.Ag, M.Ag, upacara piodalan ini rutin di gelar setiap Purnama Sasih Ketiga. Untuk saat ini tingkatan upacara yang diambil adalah piodalan Pulesari dengan caru ayam brumbun. Upacara piodalan ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Oka Arga dari Geria Gede Kesiman. Rangkaian kegiatan piodalan dimulai pukul 09.00 Wita. Dan setelah acara persembahyangan dilanjutkan dengan Dharma wecana oleh Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha, dengan materi Dharma Wecana sejarah perkembangan Agama Hindu. Dalam sejarah perkembangan Agama Hindu sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Agama Hindu adalah Agama yang paling tua, di dalam perjalanannya tetap mengacu kepada Weda. Yang perlu diwaspadai di jaman global ini khususnya generasi muda adalah bagaimana menyikapi perkembangan-perkembangan dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakat dalam keadaan bagaimanapun Weda harus tetap menjadi sumber utamanya sebagaimana diungkapkan dalam Menawa Dharmasastra yakni : Seruti, Smerti, Sila, Sad Acara, Atmanastuti. Apalagi Kota Denpasar yang berspirit Tri Hita Karana yang bernapaskan Hindu. Untuk Itulah kita diharapkan tetap mendukung bersama spirit maupun napas tersebut dalam konteks ajeg Bali khususnya, dan keutuhan NKRI pada umumnya. Dari sudut pandang etika moralitas yang bersumberkan pada Sila dalam bentuk kepengaruhan global perlu diwaspadai pengaruh positf dan negatif tersebut. Tentunya pengaruh positif dapat digunakan untuk dipakai dalam sesanti Bali “Selunglung Sebayantaka” dalam hal berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kegiatan piodalan ini diakhiri dengan santap siang bersama. (gt)