Menu

Hadapi Proxy War Dengan Semangat Nasionalisme

  • Sabtu, 25 Februari 2017
  • 593x Dilihat

(Kankemenag Kota Denpasar) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa diikuti oleh perubahan kultur dan perubahan di segala bidang, termasuk perubahan mindset umat manusia. Perubahan ini sifatnya seperti pedang bermata dua, dapat memberikan kita keuntungan atau sebaliknya dapat merugikan kita. Guna mengawal umat, khususnya umat Buddha dalam mengarungi arus perubahan ini, Penyelenggara Buddha pada Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Mental Siswa Tingkat Dasar dan Menengahsebagai agenda rutin setiap tahunnya. Kegiatan Pembinaan Mental kali ini berlangsung di T.I.T.D.Cau Fuk Miao, Sabtu(25/2) lalu, dihadiri oleh 50 orang peserta siswa Buddha se Kota Denpasar, dan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar didampingi Penyelenggara Buddha pada Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si menekankan pesan kepada para pemuda yang hadir sebagai generasi penerus bangsa yang sangat lekat dengan kemajuan teknologi dan perubahan tatanan sosial kehidupan agar senantiasa mawas diri dan selalu memikirkan setiap konsekuensi dari tindakan yang akan dilakukan.Beliau juga mengharapkan agar anak-anak muda yang merupakan tumpuan masa depan bangsa selalu berpedoman pada etika dan norma-norma kehidupan, sehingga selain dapat membentuk suatu keharmonisan dalam hubungan antar sesama, perilaku yang sesuai dengan etika dan norma-norma kehidupan ini nantinya djuga diharapkan dapat membawa para generasi muda kejenjang kesuksesan di masa depan serta terhindar dari pengaruh buruk globalisme.

Salah satu narasumber dari TNI AD (Bintaldam IX/Udayana), Kapten Inf. I Made Budiasa pun mengungkapkan hal yang sama, bahwa saat ini kita sedang menghadapi proxy war, perang ini sendiri sebenarnya lebih berbahaya dari perang secara fisik, perang tanpa bentuk, tak jelas siapa kawan maupun lawan. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa perang proxy merupakan kepanjangan tangan suatu negara berupaya mendapatkan kepentingan strategisnyadengan menghindari keterlibatan secara langsung.Oleh karenanya Kapten Inf. Made Budiasa menekankan agar seluruh siswa yang hadir memperkuat pemahaman rohaninya sebagai dasar nasionalisme dan memegang teguh ideologi bangsa kita, memahami bahwa cinta dan kepedulian terhadap kepentingan negara harus menjadi kepentingan tertinggi di atas segala-galanya. (sta)