Kegiatan Sosialisasi Inovasi MELAJAH (Moderasi Lintas Agama Menuju Umat Harmonis) di SMB Sakyamuni Denpasar
Dalam rangka penguatan Moderasi Beragama, Minggu (11/9) pagi tadi, Ka. Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Bapak Ida Bagus Dibya, SE didampingi Penyelenggara Buddha, Ibu Ni Nyoman Aryati, S.Ag., M.Pd.H beserta Pranata Humas, Ayu Candra Sadewi, M.Pd.H beserta tim melaksanakan kegiatan sosialisasi Inovasi MELAJAH (Moderasi Lintas Agama Menuju Umat Harmonis) bersama Sekolah Minggu Buddha (SMB) di ruang Sekber Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar.
Kegiatan ini disambut baik oleh seluruh Ketua/Pengurus serta dihadiri dan ikuti oleh Ketua Sinergi Provinsi Bali, PMy. Drs. Sutikno Gunawan atau yang mewakili, Ketua Yayasan Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar, Ketua FIB Kota Denpasar, Ketua SMB Sakyamuni Denpasar serta adik-adik perwakilan dari Sekolah Minggu Buddha (SMB) Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar.
Penyelenggara Buddha membuka kegiatan ini dengan menyampaikan maksud dan tujuan yakni memperkenalkan serta mensosialisasikan salah satu inovasi terbaru dari Kementerian Agama Kota Denpasar yaitu MELAJAH (Moderasi Lintas Agama Menuju Umat Harmonis) yang lebih difokuskan pada siswa siswi di setiap sekolah nantinya dan SMB ini adalah sekolah pertama yang dilakukan sosialisasi MELAJAH ini. Tentunya nantinya para peserta yang hadir mendapatkan ilmu dari apa yang disampaikan oleh Ka. Subbag TU.
Sementara Ka. Subbag TU dalam hal ini menyampaikan materi terkait moderasi beragama kepada seluruh peserta dari SMB yang hadir. Perlu diketahui bahwa Indonesia sebagai sebuah negara kaya akan keberagaman yang terdiri dari keberagaman suku, bangsa, bahasa, adat istiadat dan agama, dewasa ini seringkali diterpa isu tentang radikalisme. Gerakan-gerakan yang mengatasnamakan kelompok tertentu ini semakin hari semakin tumbuh dan secara terang-terangan menyuarakan ideologi mereka. Aksi teror, penculikan, penyerangan, bahkan pengeboman pun kian marak terjadi.
Dalam hal ini Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.
Beragama itu menebar damai, menebar kasih sayang, kapanpun dimanapun dan kepada siapapun. Beragama itu bukan untuk menyeragamkan keberagaman, tetapi untuk menyikapi keberagaman dengan penuh kearifan. Agama hadir ditengah-tengah kita agar harkat, derajat dan martabat kemanusiaan kita senantiasa terjamin dan terlindungi.
Semua agama mengajarkan kebaikan. Dalam kehidupan, tentunya ada sebuah perbedaan. Cara pandang sikap dan praktek keagamaan yang sering kali dijadikan alasan menerima perbedaan ini, sehingga adanya ketidakharmonisan dalam sebuah kehidupan.
Oleh karenanya jangan gunakan agama sebagai alat untuk menegasi dan saling merendahkan dan meniadakan satu dengan yang lain. Oleh karenanya, mari senatiasa menebarkan kedamaian dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun khususnya siswa siswi di sekolah. Beragama itu menjaga, menjaga hati, menjaga perilaku diri, menjaga seisi negeri dan menjaga jagat raya ini, ucap Ka. Subbag TU.
Selain materi, penyampaian video-video yang mencermikan moderasi beragama juga diputar agar anak-anak SMB lebih mampu menyerap arti sesungguhnya dari moderasi beragama ini. Semoga dengan adanya kegiatan ini, kita dapat menggerakan penguatan moderasi beragama ini kepada seluruh elemen masyarakat khususnya peserta didik disekolah serta mampu menciptakan keharmonisan pada setiap umat. (kd) #SantihMelayani
18 Februari 2026
18 September 2025