Menu

Kemenag Kota Denpasar Kolaborasi Bersama Densus 88 At Polri Goes to SMA Negeri 3 Denpasar, Sampaikan Pentingnya Moderasi Beragama dan Startegi Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme

  • Jumat, 26 Juli 2024
  • 231x Dilihat

Kemenag Kota Denpasar Kolaborasi Bersama Densus 88 At Polri Goes to SMA Negeri 3 Denpasar, Sampaikan Pentingnya Moderasi Beragama dan Startegi Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme

Kolaborasi dan sinergitas yang sudah terjalin antara Kementerian Agama Kota Denpasar bersama Densusu 88 At Polri menjadikan satu pemikiran dalam mewujudkan generasi yang berakhlak dan berkarakter. Jumat (26/7) pagi tadi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Bapak Ida Bagus Dibya beserta Penyuluh Agama Hindu dan Humas hadir kembali membawakan KADER (Kemenag Rider) mengangkat topik terkait Moderasi Beragama yang merupakan inovasi dari MELAJAH (Moderasi Lintas Agama Menuju Umat Harmonis) dan turut hadir Densus 88 At Polri dengan membawakan topik/materi terkait Startegi Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme “Wujudkan Generasi Berkarakter Pancasila dan Mewujudkan Kebhinekaan” yang diselenggarakan di SMA Negeri 3 Denpasar. Kegiatan ini disambut dengan baik oleh guru, tenaga kependidikan dan disambut antusias oleh siswa siswi multi agama yang tergabung dalam 3 kelas mulai kelas X, XI dan XII SMA Negeri 3 Denpasar.

Densus 88 At Polri dalam hal mengatakan bahwa kegiatan ini terkait dengan strategi bagaimana strategi kita menolak segala bentuk tindakan intoleransi dan radikalisme demi mewujudkan generasi berkarakter Pancasila dan menjunjung kebhinekaan. Intoleransi bisa menjadi titik-titik cikal bakal berkembangnya paham radikal-radikal kemudian apabila terus dipelihara dalam lambang tahun akan berubah menjadi seperti itu proses perjalanannya menjadi terorisme.

Maksud dari tujuan kami Densus 88 bersama dengan Kementerian Agama di sini adalah kegiatan ini agar peserta dapat memahami tentang bahaya pengaruh paham intoleran radikalisme dan eksterior termasuk terorisme serta cara pencegahannya begitu pula agar peserta dapat meneruskan pengetahuan ini ya kepada keluarga lingkungan komunitas dan seluruh elemen masyarakat. Pada akhirnya siswa siswi akan bermasyarakat lulus sekolah melanjutkan sekolah yang lebih tinggi kemudian melanjutkan karir.

Selanjutnya Ka. Subbag TU dalam hal ini menyampaikan materi terkait moderasi beragama kepada seluruh siswa siswi yang hadir. Dalam hal ini Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.

Pada kesempatan ini penyuluh lintas agama turut menyampaikan pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan bersosial. Beragama itu menebar damai, menebar kasih sayang, kapanpun dimanapun dan kepada siapapun. Beragama itu bukan untuk menyeragamkan keberagaman, tetapi untuk menyikapi keberagaman dengan penuh kearifan. Agama hadir ditengah-tengah kita agar harkat, derajat dan martabat kemanusiaan kita senantiasa terjamin dan terlindungi.

Semua agama mengajarkan kebaikan. Dalam kehidupan, tentunya ada sebuah perbedaan. Cara pandang sikap dan praktek keagamaan yang sering kali dijadikan alasan menerima perbedaan ini, sehingga adanya ketidakharmonisan dalam sebuah kehidupan.

Oleh karenanya jangan gunakan agama sebagai alat untuk menegasi dan saling merendahkan dan meniadakan satu dengan yang lain. Oleh karenanya, mari senatiasa menebarkan kedamaian dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun khususnya siswa siswi di sekolah. Beragama itu menjaga, menjaga hati, menjaga perilaku diri, menjaga seisi negeri dan menjaga jagat raya ini, ucap Ka. Subbag TU. (kd) #SantihMelayani