Kisah Penuh Suka Cita dan Inspirasi Dari Seorang Tukang Taman Naik Haji di Tahun 2024
Jika dalam serial sinetron televisi dahulu ada kisah Tukang Bubur Naik Haji, kali ini untuk menggambarkan jemaah yang satu ini tak salah jika menyebutnya Tukang Taman Naik Haji. Ya karena jemaah ini kesehariannya bekerja sebagai pembuat taman pada rumah seseorang kemudian merawatnya. Kadang juga mendapatkan orderan membuat dan merawat taman di vila seputaran Denpasar.
Namanya Mbah Katiran bin Misman. Jemaah yang tinggal di sebuah rumah dengan mengontrak tanah di bilangan jalan Batur Sari Sanur Kauh ini beruntung mendapat penggilan ke tanah suci tahun ini. Betapa tidak, Jemaah Haji Provinsi Bali yang berangkat tahun ini rata-rata adalah pendaftar hingga Mei 2013 dengan masa tunggu 11 tahun, sedangkan Mbah Katiran terdaftar sebagai Jemaah Haji pada April 2018 berarti baru 6 tahun mengantri. Kok bisa? Ya karena Mbah Katiran yang berusia 80 tahun masuk dalam kategori Jemaah Prioritas Lansia.
Kementerian Agama menetapkan prosentase tertentu untuk Jemaah Lansia umur 65 tahun ke atas. Data Jemaah Lansia tersebut kemudian diurut by system dengan ketentuan yang paling tua dan paling lama terdaftar. Minimal telah terdaftar sebagai Jemaah Haji 5 tahun pada tahun keberangkatan.
Sedangkan pasangannya Mbah Halayatin binti Pawiro Bakri (70 tahun) yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga, berkali-kali mengucap syukur dan tak sanggup mengungkapkan kegembiraannnya bisa mendampingi suami tercinta. Sejak awal saat suaminya mengikuti manasik haji mandiri yang diselenggarakan Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Kota Denpasar dia selalu hadir mendampingi meski nomer porsinya belum dipastikan masuk kuota berangkat tahun ini. Dia selalu berdo’a agar dapat berangkat tahun ini mendampingi suami. Dan akhirnya kesempatan itu di dapat ketika ada kuota kriteria penggabungan suami/istri.
Di temui di Mushola Toriqussalam saat silaturahmi Rombongan 3 Kloter SUB-71 yang dikemas dalam “Manasik Haji Sejak Keluar Rumah Hingga Kembali ke Rumah” pada Kamis (23/3) pasangan asal Genteng Banyuwangi yang lebih dari 30 tahun merantau di Bali ini tak henti menampakkan raut kegembiraan dan kesyukuran kepada Allah SWT.
Ketika ditanya apa motivasi mendaftar haji, dengan tegas mereka mengatakan ingin sekali berangkat ke tanah suci menyempurnakan rukun Islam karena anak-anaknya sudah pada “mentas” (selesai, menikah). “Biar kelihatan hasilnya (merantau), ibarat anak sekolah bisa mendapatkan ijazah (dengan berhaji).” tambah Mbah Halayatin. Saat ditanah suci mereka juga ingin memanjatkan do’a agar diberikan kesehatan dan keselamatan, ibadahnya semakin baik, putra-putrinya, teman dan saudara-saudaranya dapat mengikuti mereka.
Menengok kisah Mbah Katiran dan Mbah Halayatin ini rasanya tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mendaftar haji karena usia tua, buktinya mereka berdua mendaftar haji pada tahun 2018 saat usia keduanya 74 dan 64 tahun.
Selain itu porsi haji juga dapat dilimpahkan kepada keluarga jika Jemaah meninggal dunia atau sakit permanen.
Sejatinya panggilan berhaji untuk menyempurnakan rukun Islam yang ke lima telah diseru sejak berabad lamanya, tinggal kita mau mengindahkan penggilan itu atau menunda karena “merasa belum terpanggil”?
18 Februari 2026
18 September 2025