DENPASAR – Matahari tepat berada di puncaknya saat M. Muhlisin melangkah masuk ke pelataran Mushola Al-Hikmah Joglo, Jumat (17/4) siang. Kedatangan PIC Program SAPTA (Sinergi Agama untuk Pelestarian Alam) Kemenag Kota Denpasar ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan sebuah misi untuk menimba ilmu dari "Oase Hijau" di tengah hiruk pikuk Jalan Pura Duwe 9, Padangsambian Klod.
Mushola Al-Hikmah Joglo bukan sekadar tempat sujud. Di bawah naungan bangunan berasitektur tradisional yang teduh, geliat pelestarian alam terasa begitu nyata. Sambutan hangat datang dari Ketua Yayasan, H. Nuryadi, yang didampingi oleh H. Maskuron serta tim ketakmiran. Mereka siap membagikan resep rahasia bagaimana sebuah rumah ibadah bisa menjadi solusi bagi lingkungan.
H. Maskuron membuka perbincangan dengan memaparkan tiga program unggulan yang menjadi napas yayasan: Manajemen Masjid Profesional, Pemberdayaan Ekonomi Umat, dan yang kini menjadi primadona, Masjid Ramah Lingkungan.
"Saat ini yang paling relevan dengan persoalan di Denpasar adalah program ramah lingkungan. Kami sudah memulainya sejak lama. Meski awalnya tidak mudah, asalkan ada niat, jalan itu pasti terbuka," ujar H. Maskuron penuh optimisme.
Berjalan mengelilingi area mushola seperti memasuki laboratorium ekologi yang canggih namun praktis. Di sana terdapat Greenhouse yang rimbun dengan tanaman hidroponik dan kolam budidaya ikan lele yang tertata rapi. Tak hanya itu, mereka memiliki sistem ProTab yang menyulap air hujan menjadi air layak konsumsi, hingga pengolahan sampah menjadi cairan serbaguna Eco-Enzyme.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah keberhasilan mereka menerapkan pengolahan limbah berbasis sumber. Hasilnya luar biasa: 100% sampah yang dihasilkan Mushola Al-Hikmah Joglo tidak ada yang berakhir di TPA Suwung.
Salah satu kunci kesuksesan mereka adalah Sistem Osaki, sebuah metode pengolahan limbah organik asal Jepang. H. Maskuron menjelaskan secara detail bagaimana mereka memilah antara food waste (makanan sisa di piring) dan food loss (bagian yang tidak bisa dimakan seperti tulang dan kulit buah).
“Sampah organik tersebut dikumpulkan, lalu dicampur dengan jamur molase dengan perbandingan satu banding satu. Cukup diaduk setiap hari hingga bertransformasi menjadi pupuk kaya nutrisi,” jelasnya.
Keajaiban dari sistem ini, menurut H. Maskuron, adalah hilangnya aroma tidak sedap yang biasanya identik dengan sampah. "Keunggulannya, sampah ini tidak bau dan tidak mengundang lalat. Selain bersih, pupuk yang dihasilkan juga bernilai ekonomi," tambahnya.
Keberhasilan Al-Hikmah Joglo kini mulai dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar yang ikut menitipkan pengolahan sampahnya di sana. Inisiatif ini selaras dengan program Pemerintah Kota Denpasar yang tengah gencar mengatasi darurat sampah.Kunjungan program SAPTA siang itu diakhiri dengan sebuah harapan besar. H. Maskuron bermimpi agar jejak hijau Al-Hikmah Joglo bisa diikuti oleh tempat ibadah lainnya.
"Sistem ini bisa diterapkan di mana saja. Jika setiap rumah ibadah mampu mengelola sampahnya sendiri, maka persoalan sampah di Kota Denpasar akan jauh lebih cepat tuntas," pungkasnya.Siang itu, Al-Hikmah Joglo telah membuktikan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, dan dari halaman rumah ibadah, sebuah perubahan besar untuk bumi bisa dimulai.
18 Februari 2026
18 September 2025